Kesadaran Mendahului, Realita Mengikuti

Saudara,

Kita tahu bahwa yang namanya manusia, cenderung memiliki keinginan yang ingin dicapai.

Entah dalam hal keuangan, bisnis, karir, hubungan, dan sisi kehidupan manusia yang lainnya.

Tak terkecuali saya, yang juga seperti manusia pada umumnya, yaitu punya keinginan yang ingin direalisasikan.

Ngomong-ngomong tentang keinginan, ketika kuliah, sebenarnya saya sudah berkeinginan untuk menjadi pengusaha. Tak hanya pengusaha, tetapi lebih spesifiknya adalah, pengusaha yang punya waktu luang untuk mengatur waktunya sendiri.

Karena kita tahu, bahwa menjadi pengusaha tak seindah cerita para motivator. Seringnya ketika jadi pengusaha, malah banyak tekanan dan tantangan yang perlu dihadapi. Boro-boro waktu luang, yang ada malah waktu tersita untuk bisnis. Sehingga, keinginan saya perlu dispesifikkan, yaitu: Pengusaha yang punya waktu luang untuk mengatur waktunya sendiri.

Tetapi, ketika saya lulus kuliah, Allah menakdirkan lain. Ternyata saya belum bisa langsung merealisasikan keinginan saya sebagai pengusaha, karena bapak dan ibu menginginkan saya untuk bekerja terlebih dahulu sampai punya pengalaman yang cukup, baru kemudian menjalankan bisnis.

Meskipun semasa kuliah saya sudah mulai berbisnis (bahkan semenjak SMA) – lebih tepatnya adalah berdagang, bukan berbisnis. Tetapi masih belum membuat kepercayaan bapak dan ibu tumbuh dan merestui saya menjalankan bisnis setelah kuliah.

Bapak dan ibu saya masih keukeuh menginginkan agar anaknya yang bernama “Bayu” ini bisa bekerja ikut orang terlebih dahulu, sebelum benar-benar memutuskan berbisnis, dan menjadi manusia independen yang berdiri di atas kakinya sendiri.

Oke, saya pun menerimanya, dan mulai memutuskan untuk melamar di perusahan-perusahaan pelayaran dan logistik (karena saya lulusan ilmu pelayaran niaga dan logistik) untuk menjajaki dunia profesional yang pertama kalinya dalam hidup saya.

Seperti yang juga telah kita ketahui, bahwa yang namanya lulusan baru, kemungkinan besar akan mendapatkan gaji yang tergolong kecil. Dan tentu saja, saya pun menemui realita tersebut.

Saya ingat betul bagaimana tiap harinya saya harus selalu bertanya kepada penjual makanan, agar makanan yang saya pesan bisa pas harganya sesuai dengan anggaran makan saya, yang kala itu “hanya” 10 Ribu Rupiah, dan itu di Jakarta. Bayangkan, di Jakarta 10 Ribu dapat apa saja dalam sekali makan? Alhamdulillah, menu andalan saya adalah, nasi, telur, sayur, dan air putih. Apapun itu, saya sangat mensyukurinya.

Sekilas jika diceritakan, ketika itu saya seolah “menderita” (padahal saya pun juga merasakan biasa saja, tanpa penderitaan apapun), tetapi ternyata itulah jalan pengabulan doa dari Allah pada saya yang ingin menjadi pengusaha kala itu.

Karena gaji saya (menurut saya) kecil, membuat “pantat” saya jadi panas terus tiap hari, yang menandakan ingin segera resign dan membangun bisnis saya sendiri.

Karena keinginan saya untuk berbisnis, tentu saya tidak tinggal diam dan menunggu keajaiban dari Allah datang “menyelamatkan” saya. Ketika itu saya mulai belajar ilmu bisnis tiap hari, mengikuti kursus online digital marketing, cara jualan, bikin website, landing page, menulis naskah/skrip promosi, mendesain konten promosi, dan lain sebagainya, yang semua hal tersebut saya jadikan bekal awal membangun bisnis setelah resign.

Sampai suatu ketika, karena emosi dan gairah saya untuk bisnis sudah mencapai puncaknya (karena sekian lama tertahan), saya nekat untuk resign.

Dalam hati saya berkata, “Sudahlah, resign saja. Soal rezeki setelah ini, pasrah sama Allah.”

Saya berkata demikian, karena saya merasa sudah “eneg” dengan umpatan-umpatan rekan-rekan kerja yang tiap hari kerjaannya ngeluh melulu atas pekerjaannya.

Saya sempat mbatin alias ngomong dalam hati, “Ngapain diterusin kerja sih kalau nggak nyaman dan ngumpat terus tiap hari?”.

Karena fenomena yang saya lihat tersebut tiap harinya, saya jadi kepikiran satu kutipan bijak yang mengatakan, “Jangan meludahi sumur yang airnya kamu minum sendiri”.

Wah, saya jadi tertohok karena teringat kutipan tersebut. Dan karena itulah sesegera mungkin saya memutuskan untuk resign, karena merasa tidak nyaman bekerja di tempat tersebut, dan agar tidak sampai di tahap “meludahi sumur yang airnya saya minum sendiri”.

Selain karena pada dasarnya saya ingin segera memulai bisnis, keputusan tersebut saya ambil karena saya mencoba untuk berperilaku adil terhadap diri sendiri dan perusahaan yang saya ikuti kala itu.

Kurang lebih 6 bulan lamanya bekerja di Jakarta, akhirnya saya resign. Alhamdulillah, babak baru kehidupan dimulai, menjadi seorang pengusaha.

Singkat cerita, tak lama setelah itu saya pun memulai bisnis saya. Dan saat ini saya bersyukur karena Allah mengabulkan doa sesuai dengan kondisi hidup yang saya idam-idamkan. Yaitu memiliki bisnis yang menguntungkan, serta dapat mengatur waktu secara bebas. Ditambah lagi, Allah memberi bonus saya dengan dapat menjalankan bisnis di mana pun saya berada, karena bisnis yang saya jalankan menggunakan konsep kerja remot.

Nah, saudara, dari cerita tersebut akhirnya saya menyimpulkan bahwa, ketika kita menginginkan sesuatu, maka kita perlu menjaga kesadaran agar tetap berada di kondisi yang kita inginkan. Dan sembari menjaga kesadaran, kita dapat melakukan hal-hal yang diperlukan untuk menuju ke kondisi yang diinginkan.

Karena konsep dasar penciptaan realita adalah…

Kesadaran mendahului, realita mengikuti

Ya, awal dari realita adalah kesadaran, dan Anda akan cenderung menemui realita-realita yang sesuai dengan kesadaran yang Anda miliki, baik secara sadar maupun tanpa sadar.

Sama seperti ketika Anda pulang dari kantor ke rumah. Pada saat itu, sebenarnya kesadaran (isi pikiran) Anda sudah berada di rumah. Anda sudah membayangkan bagaimana nyamannya istirahat di rumah, dan menyantap hidangan yang sudah disiapkan oleh pasangan Anda di rumah.

Di saat yang sama, karena kesadaran Anda sudah tahu mau kemana Anda menuju, maka tubuh Anda pun tergerak secara otomatis untuk merealisasikannya.

Anda mulai naik kendaraan, memasuki jalan, berkelok-kelok mengendarai kendaraan, sampai di tempat tujuan yang sesuai dengan kesadaran Anda, yaitu: Rumah.

Sekali lagi, kesadaran mendahului, realita mengikuti.

Selamat menjaga kesadaran Anda.

Salam Berdaya,

Bayu Aji Prasetyo

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mohon maaf konten eksklusif hanya bisa dinikmati langsung di website resmi makna.in