Prinsip Dasar Membangun Kemakmuran

Beberapa saat sebelum konten ini ditulis, saya menonton sebuah video yang berjudul “Escaping The Rat Race” dari kanal YouTube James Jani.

Entah kenapa video tersebut tiba-tiba nongol di beranda, dan karena thumbnail-nya menarik, saya coba klik dan tonton videonya.

Setelah ditonton, eh lha kok bagus. Dari storytelling-nya, sampai editing videonya, semuanya memanjakan indera saya.

Tetapi, bukan itu poin yang akan dibahas pada kesempatan kali ini, melainkan konten dari video tersebut.

Video tersebut menjelaskan, bahwa penyebab mengapa mayoritas manusia saat ini seolah menjadi “hamba” dari uang adalah, karena gaya hidup yang terlalu berlebihan di konsumsi, daripada produksinya. Di mana kita tahu, bahwa ini sebenarnya masalah klasik.

Misalnya, penghasilan 10 juta, tetapi konsumsinya lebih dari 10 juta. Bukan karena kebutuhan hidupnya mahal, tetapi karena gaya hidup yang melebihi kemampuan.

Padahal kita tahu, bahwa jika nilai yang dikonsumsi melebihi nilai yang dapat diproduksi, maka kebangkrutan hanya akan menunggu waktu saja, cepat atau lambat.

Kalaupun bisa bertahan, kemungkinan besar karena ada sokongan dana dari pihak ke-3, yang menawarkan pinjaman. Itu pun bisa jadi makin meningkatkan potensi kebangkrutan, karena biasanya jika ada pihak ke-3 yang menawarkan pinjaman, akan ada riba (bunga) yang menjadi tanggung jawab si peminjam untuk membayarnya.

Jadi, semakin banyak pinjaman, justru malah semakin memperparah keadaan. Dan karena keadaan semakin parah, manusia cenderung bekerja lebih keras dan lebih lama lagi, untuk membayar semua tagihan-tagihannya.

Kalau sudah begitu, bagaimana bisa hidup jadi tenang? Betul, kan?

Lebih lanjut, kalau ada masalah, tentu ada solusi. Karenanya, mungkin timbul pertanyaan, “Apa solusinya?”

Solusinya sebenarnya sederhana, dan rumusnya pun sangat sederhana pula.

Kita tahu, bahwa rumus kemakmuran adalah:

Produksi – Konsumsi = Tingkat Kemakmuran

Jika kita ingin makmur atau meningkatkan kemakmuran, maka kita cukup mengotak-atik 2 variabel dari rumus tersebut, yaitu antara meningkatkan produksi, atau mengurangi (mengontrol) konsumsi.

Misalnya, jika Anda saat ini merasa sudah memiliki produktivitas yang cukup baik, dan merasa konsumsi Anda terlalu tinggi, maka Anda bisa memilih untuk mengurangi konsumsi Anda.

Sebagai contoh, jika Anda biasa minum kopi di kafe seharga 35 ribu per gelas, maka Anda bisa menyiasatinya dengan cara membeli peralatan kafe rumahan dan biji kopi untuk membuat kopi Anda sendiri di rumah.

Sekilas di awal akan terasa mahal dengan membeli peralatan kopi rumahan. Namun, jika Anda menghitung berapa banyak uang yang bisa Anda hemat selama beberapa bulan atau beberapa tahun ke depan, maka Anda akan merasakan betapa menguntungkannya menginvestasikan uang Anda di peralatan kopi rumahan. Karena uang yang sebelumnya Anda keluarkan untuk membeli kopi, mungkin kini bisa Anda alokasikan untuk kebutuhan Anda yang lainnya.

Dari ilustrasi di atas, kita jadi paham bahwa sebenarnya investasi bukan hanya tentang menambah nilai uang, tetapi juga tentang berapa banyak uang yang dapat dihemat. Selain itu, investasi sebenarnya juga tentang meningkatkan efektivitas (daya beli) uang, meskipun dengan jumlah uang yang sama.

Masih tentang konsumsi, jika dijelaskan secara singkat, maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan agar konsumsi dapat lebih terkontrol, yaitu:

  1. Menetapkan standar cukup untuk hidup, sehingga tercipta rasa syukur
  2. Belajar ilmu pemberdayaan, pengembangan, kebijaksanaan, dan kesadaran diri

Dengan 2 hal tersebut, insyaAllah konsumsi kita akan jauh lebih terkontrol.

Selanjutnya, selain mengurangi konsumsi, jika kita merasa konsumsi kita sudah efektif dan efisien, maka kita bisa meningkatkan produktivitas.

Pertanyaannya adalah, bagaimana cara meningkatkan produktivitas?

Nah, ini yang cukup menantang, dan tidak banyak orang mau memilih jalan ini. Karena perlu diakui bahwa jalur meningkatkan produktivitas lebih “menantang” daripada mengurangi konsumsi.

Tetapi apapun tantangannya, kita sudah memilih untuk melakukannya. Karena toh juga untuk diri kita sendiri. Betul, kan?

Jadi, apa saja yang diperlukan untuk meningkatkan produktivitas?

Pertama, kita bisa belajar hal-hal yang dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pekerjaan yang kita lakukan, kemudian mengaplikasikannya..

Misalnya jika Anda seorang marketer atau sales, maka Anda bisa belajar bagaimana cara berkomunikasi yang persuasif, bagaimana cara membuat penawaran yang baik, bagaimana mengoptimasi customers journey dan lain sebagainya.

Kemudian, selain belajar hal-hal yang dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pekerjaan, kita juga bisa menggunakan daya ungkit untuk mendongkrak efektivitas pekerjaan yang kita lakukan.

Misalnya jika Anda pengusaha UKM, maka Anda bisa membuat konten video edukasi, kemudian menyebarkannya melalui YouTube untuk memperkenalkan bisnis Anda, karena dengan platform tersebut, video Anda dapat ditonton oleh banyak orang sekaligus.

Selain itu, agar lebih terdongkrak, Anda juga bisa menggunakan iklan secara online untuk meningkatkan jumlah orang yang mengunjungi bisnis Anda.

Lebih lanjut lagi, tentu saja meningkatkan produktivitas atau mengurangi konsumsi bukan hanya menjadi pilihan yang bisa kita pilih salah satunya. Kalau pun kita mau memilih untuk melakukan keduanya, tentu itu lebih baik.

Jadi, jika dirangkum, maka ada 2 kemampuan yang perlu dimiliki oleh siapapun jika ingin meningkatkan kemakmuran dan ketenangan hidup, yaitu:

  1. Kemampuan meningkatkan produksi, dan
  2. Kemampuan mengontrol konsumsi

Selain itu, jika ingin hidup tenang, maka sebisa dan sekuat mungkin hindari berhutang, apalagi berhutang pada pihak yang membebankan riba (bunga), yang makin memperburuk keadaan.

Mengapa hutang tidak dianjurkan?

Karena kita sudah sama-sama tahu, bahwa hutang bikin jantung deg-deg-an. Bukan karena jatuh cinta, melainkan karena kepikiran terus bagaimana cara membayarnya, hehe. Itu pun, kalau berniat untuk membayarnya, karena tak sedikit orang yang justru berniat untuk tidak membayar.

Sedangkan kita juga sudah tahu, bahwa rezeki akan jauh lebih mudah mengalir jika perasaan (hati) kita tenang, adem, damai, dan jernih. Bukan sebaliknya.

Sekian dari saya, semoga bermanfaat.

Salam Berdaya,

Bayu Aji Prasetyo

1 thought on “Prinsip Dasar Membangun Kemakmuran”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mohon maaf konten eksklusif hanya bisa dinikmati langsung di website resmi makna.in